Apa Kata Selera Musik Anda tentang Kepribadian Anda? Inilah Temuan Riset
Orang dengan keterbukaan tinggi cenderung menyukai musik yang kompleks dan tidak biasa. Namun kaitan selera musik dan kepribadian lebih kecil dari dugaan.
Terjemahan ini dibuat secara otomatis dan mungkin mengandung kesalahan.
Jawaban singkatnya: Selera musik Anda memang mengatakan sesuatu tentang kepribadian Anda, tetapi jauh lebih sedikit daripada yang diklaim kuis-kuis daring. Kaitan yang paling jelas dan paling sering terbukti ulang adalah dengan keterbukaan terhadap pengalaman: orang dengan skor keterbukaan tinggi cenderung menikmati musik yang lebih kompleks, beragam, dan tidak konvensional, seperti musik klasik, jazz, dan aliran eksperimental. Sifat Big Five lainnya menunjukkan kaitan yang lebih lemah dan kurang konsisten, dan bahkan efek keterbukaan pun kecil.
Musik adalah salah satu hal pertama yang dibagikan orang ketika saling berkenalan. Para peneliti telah mempelajari alasannya selama lebih dari dua dekade, dan hasilnya lebih menarik, sekaligus lebih sederhana, daripada anggapan bahwa genre favorit Anda mengungkap siapa diri Anda.
Temuan utama
- Keterbukaan terhadap pengalaman menunjukkan kaitan paling jelas dengan selera musik. Orang dengan keterbukaan lebih tinggi cenderung menyukai musik yang kompleks, canggih, dan intens.
- Selera musik dapat dikelompokkan ke dalam beberapa dimensi besar, seperti musik yang kompleks, intens, lembut, ritmis, dan ceria, alih-alih puluhan genre yang terpisah.
- Studi berskala besar menunjukkan bahwa reaksi terhadap musik, bahkan Like di Facebook untuk musisi, dapat memprediksi kepribadian sampai batas tertentu, terutama keterbukaan dan ekstraversi.
- Sebuah meta-analisis atas studi-studi sebelumnya menemukan bahwa sebagian besar kaitan antara kepribadian dan gaya musik yang disukai mendekati nol. Kaitan terkuat, yaitu untuk keterbukaan, tetap kecil.
- Selera musik adalah petunjuk statistik, bukan tes kepribadian. Usia, budaya, teman, dan sekadar seberapa sering seseorang terpapar suatu musik juga membentuknya.
Dari genre ke dimensi musik
Riset modern tentang pertanyaan ini dimulai dengan serangkaian studi oleh psikolog Peter Rentfrow dan Samuel Gosling yang diterbitkan pada 2003. Dengan menganalisis preferensi musik lebih dari 3.500 orang, mereka menemukan bahwa kesukaan terhadap genre-genre tertentu mengelompok ke dalam empat dimensi yang lebih luas:
- Reflektif dan kompleks (reflective and complex), seperti musik klasik, jazz, blues, dan folk
- Intens dan memberontak (intense and rebellious), seperti rock, alternatif, dan heavy metal
- Ceria dan konvensional (upbeat and conventional), seperti pop, country, dan musik film
- Energetik dan ritmis (energetic and rhythmic), seperti rap, soul, dan musik elektronik
Setiap dimensi berkaitan dengan pola sifat kepribadian, pandangan diri, dan kemampuan yang berbeda. Kaitan yang paling konsisten adalah dengan keterbukaan terhadap pengalaman: orang dengan keterbukaan lebih tinggi cenderung menyukai musik yang reflektif dan kompleks, juga musik yang intens dan memberontak.
Model selanjutnya dari Rentfrow dan rekan-rekannya meninggalkan label genre dan meminta orang bereaksi terhadap potongan musik pendek. Analisis mereka menunjuk pada lima dimensi dasar yang sering disebut model MUSIC (MUSIC model): lembut (mellow), urban (urban, ritmis dan perkusif), canggih (sophisticated, seperti musik klasik, opera, world music, dan jazz), intens (intense), dan pedesaan (campestral, gaya yang lugas dan membumi seperti country dan musik penyanyi-penulis lagu).
Mengapa keterbukaan dan musik berjalan beriringan
Keterbukaan terhadap pengalaman menggambarkan rasa ingin tahu, imajinasi, kepekaan estetis, serta minat pada ide dan perasaan baru. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang sifat ini dalam artikel kami tentang keterbukaan terhadap pengalaman.
Masuk akal jika sifat ini tampak dalam musik. Musik kompleks dengan harmoni yang tidak biasa, struktur yang panjang, atau improvisasi memberi imbalan bagi rasa ingin tahu dan kebiasaan mendengarkan dengan saksama. Orang dengan keterbukaan tinggi juga cenderung mencari hal baru, jadi mungkin mereka memang sudah menjelajahi lebih banyak gaya.
Riset tentang atribut musik, bukan genre, mendukung hal ini. Dalam studi tahun 2016 dengan 9.454 peserta, David Greenberg dan rekan-rekannya menemukan bahwa kualitas yang didengar orang dalam musik dapat disusun ke dalam tiga dimensi: gairah (arousal, seberapa energetik musiknya), valensi (valence, seberapa positif kedengarannya), dan kedalaman (depth, seberapa kompleks musiknya secara intelektual dan emosional). Preferensi orang terhadap atribut-atribut ini mencerminkan kepribadian mereka, bahkan setelah memperhitungkan usia dan faktor demografis lainnya. Keterbukaan adalah sifat yang paling sering dikaitkan dengan kegemaran pada musik yang memiliki kedalaman.
Namun, keterbukaan bukanlah satu hal tunggal. Sebuah studi oleh Fabio Setti dan Jeffrey Kahn meneliti masing-masing aspek keterbukaan pada 374 mahasiswa dan menemukan bahwa aspek-aspek tersebut berkaitan dengan preferensi musik dengan cara yang menghilang ketika keterbukaan diukur sebagai satu skor keseluruhan. Dengan kata lain, sisi estetis, intelektual, dan petualang dari keterbukaan mungkin masing-masing terhubung dengan musik secara berbeda.
Bisakah musik Anda memprediksi kepribadian Anda?
Untuk menguji apakah kaitan ini tetap berlaku di luar kuesioner, sebuah tim yang dipimpin Gideon Nave menjalankan dua studi daring berskala besar yang diterbitkan di Psychological Science pada 2018.
- Dalam studi pertama, 22.252 orang menilai potongan musik pendek yang belum mereka kenal. Reaksi mereka memprediksi perbedaan kepribadian, terutama keterbukaan dan ekstraversi, melampaui apa yang dapat dijelaskan oleh usia dan informasi demografis lainnya.
- Dalam studi kedua, 21.929 orang membagikan Like Facebook mereka. Musisi mana yang mereka sukai juga memprediksi kepribadian mereka.
Ini adalah bukti terkuat bahwa preferensi musik membawa informasi nyata tentang kepribadian. Namun, "memprediksi" dalam riset semacam ini berarti lebih baik daripada kebetulan jika dilihat pada banyak orang. Artinya bukan bahwa Anda bisa melihat daftar putar satu orang lalu mengetahui kepribadiannya.
Seberapa kuat sebenarnya kaitan ini?
Inilah bagian terpenting dari cerita ini. Pada 2017, Thomas Schäfer dan Claudia Mehlhorn menggabungkan hasil studi-studi sebelumnya dalam sebuah meta-analisis untuk melihat seberapa kuat sifat Big Five berkaitan dengan preferensi terhadap berbagai gaya musik.
Sebagian besar korelasi yang mereka temukan mendekati nol. Hanya sedikit yang kecil tetapi bermakna, yaitu sekitar 0,1 hingga 0,2 pada skala di mana 1 berarti hubungan yang sempurna. Keterbukaan adalah sifat dengan kaitan paling jelas, terutama dengan kegemaran pada musik yang kompleks dan intens, tetapi efek ini pun tergolong sederhana.
Apa artinya dalam praktik? Mengetahui bahwa seseorang sangat menyukai jazz membuatnya sedikit lebih mungkin memiliki skor keterbukaan di atas rata-rata. Banyak pencinta jazz tetap akan mendapat skor rendah, dan banyak orang yang lebih sering mendengarkan pop akan mendapat skor tinggi.
Bagaimana dengan sifat-sifat lainnya?
Kaitan untuk sifat Big Five lainnya lebih lemah dan kurang konsisten antarstudi:
- Ekstraversi dikaitkan dengan kegemaran pada musik yang energetik, ritmis, dan ceria, dan merupakan salah satu dari dua sifat yang paling baik diprediksi oleh reaksi terhadap musik dalam studi-studi tahun 2018.
- Kepersetujuan dan kehati-hatian dalam beberapa studi dikaitkan dengan kegemaran pada musik yang ceria dan konvensional.
- Neurotisisme menunjukkan pola yang paling tidak konsisten.
Menyukai pop arus utama tidak berarti Anda berpikiran tertutup. Selera musik juga dibentuk oleh usia, budaya, musik yang didengarkan teman-teman Anda, apa yang Anda dengar saat tumbuh besar, dan apa yang sekadar diputar di sekitar Anda.
Apa artinya bagi Anda
Daftar putar Anda adalah bagian dari diri Anda, tetapi ia adalah tes kepribadian yang buruk. Riset ini memberikan tiga pelajaran yang berguna:
- Selera lebih mencerminkan rasa ingin tahu daripada watak. Sinyal paling jelas dalam musik adalah keterbukaan terhadap pengalaman baru dan kompleks.
- Satu genre saja tidak banyak bicara. Pola di berbagai gaya, dan alasan Anda menyukainya, lebih bermakna daripada satu genre favorit.
- Untuk mengenal kepribadian Anda, ukurlah secara langsung. Kuesioner yang tervalidasi menggambarkan sifat-sifat Anda jauh lebih akurat daripada riwayat musik Anda.
Seperti apa profil kepribadian Anda?
Penasaran apakah selera musik Anda sesuai dengan kepribadian Anda? Tes gratis kami mengukur kelima sifat, yaitu keterbukaan terhadap pengalaman, kehati-hatian, ekstraversi, kepersetujuan, dan neurotisisme, beserta enam aspek untuk setiap sifat.
Ikuti tes kepribadian Big Five gratis dan lihat skor keterbukaan terhadap pengalaman Anda.
Sumber
- Greenberg, D. M., Kosinski, M., Stillwell, D. J., Monteiro, B. L., Levitin, D. J., & Rentfrow, P. J. (2016). The song is you: Preferences for musical attribute dimensions reflect personality. Social Psychological and Personality Science, 7(6), 597–605. doi:10.1177/1948550616641473
- Nave, G., Minxha, J., Greenberg, D. M., Kosinski, M., Stillwell, D., & Rentfrow, J. (2018). Musical preferences predict personality: Evidence from active listening and Facebook likes. Psychological Science, 29(7), 1145–1158. doi:10.1177/0956797618761659
- Rentfrow, P. J., & Gosling, S. D. (2003). The do re mi's of everyday life: The structure and personality correlates of music preferences. Journal of Personality and Social Psychology, 84(6), 1236–1256. doi:10.1037/0022-3514.84.6.1236
- Rentfrow, P. J., Goldberg, L. R., & Levitin, D. J. (2011). The structure of musical preferences: A five-factor model. Journal of Personality and Social Psychology, 100(6), 1139–1157. doi:10.1037/a0022406
- Schäfer, T., & Mehlhorn, C. (2017). Can personality traits predict musical style preferences? A meta-analysis. Personality and Individual Differences, 116, 265–273. doi:10.1016/j.paid.2017.04.061
- Setti, F., & Kahn, J. H. (2024). Evaluating how facets of openness to experience predict music preference. Musicae Scientiae, 28(1), 143–158. doi:10.1177/10298649231174751
