Tingkat Aktivitas: mengapa sebagian orang selalu sibuk bergerak?
Ada orang yang mengisi setiap jam dengan rencana, ada yang lebih suka ritme pelan. Apa arti facet tingkat aktivitas, apa kata penelitian, dan bagaimana mengukurnya.
Terjemahan ini dibuat secara otomatis dan mungkin mengandung kesalahan.

Anda bertanya kepada seorang teman apa yang ia lakukan di akhir pekan. Sabtu: lari pagi, pasar loak, mengecat lorong rumah, dan makan malam bersama teman-teman. Minggu: jalan kaki jauh, mengunjungi orang tuanya, dan sedikit bekerja di malam hari.
Anda menghabiskan sebagian besar akhir pekan di sofa dengan sebuah buku. Dan Anda sangat menikmatinya.
Mengapa sebagian orang seolah punya mesin yang tidak pernah berhenti, sementara yang lain paling bahagia dengan ritme yang lebih pelan?
Sebagian penjelasannya terletak pada apa yang oleh psikolog disebut tingkat aktivitas. Dalam model Big Five, tingkat aktivitas adalah salah satu dari enam facet Ekstraversi. Facet ini menggambarkan ritme hidup Anda: seberapa sibuk Anda membuat diri sendiri, seberapa banyak yang Anda kerjakan, dan seberapa besar Anda menikmati sekadar bersantai.
Apa arti tingkat aktivitas?
Dalam psikologi kepribadian, tingkat aktivitas menyangkut tempo dan energi. Facet ini menggambarkan orang yang bergerak cepat, mengerjakan banyak hal sekaligus, dan mengisi waktu luangnya.
Orang dengan skor tinggi sering mengenali diri mereka dalam hal-hal berikut:
- Anda hampir selalu sibuk.
- Anda sering aktif bergerak, dari satu hal ke hal berikutnya.
- Anda melakukan banyak hal di waktu luang.
- Anda merasa tidak nyaman dengan waktu panjang tanpa kegiatan.
- Orang lain kadang bertanya dari mana Anda mendapat energi sebanyak itu.
Orang dengan skor rendah lebih suka ritme yang lebih tenang dan santai. Itu tidak berarti mereka malas atau tidak bermotivasi. Mereka hanya tidak butuh jadwal yang penuh untuk merasa senang.
Intinya bukan seberapa banyak yang Anda capai, melainkan ritme secepat apa yang terasa wajar bagi Anda.
Kebanyakan orang tidak tahan berdiam diri
Untuk memahami tingkat aktivitas, ada baiknya kita mulai dari sesuatu yang berlaku bagi hampir semua orang.
Dalam serangkaian 11 studi, peneliti meminta orang duduk sendirian di sebuah ruangan selama 6 hingga 15 menit tanpa melakukan apa pun selain berpikir. Kebanyakan tidak menikmatinya. Mereka jauh lebih suka mengerjakan tugas sehari-hari yang sederhana. Dalam satu eksperimen, banyak peserta memilih memberi diri mereka sendiri sengatan listrik ringan daripada hanya duduk bersama pikiran mereka.
Studi ini tidak mengukur tingkat aktivitas. Namun studi ini menunjukkan bahwa dorongan untuk tetap sibuk sangatlah manusiawi. Orang dengan tingkat aktivitas tinggi mungkin hanya merasakan dorongan itu lebih kuat, dan lebih sering menurutinya.
Kita butuh alasan untuk sibuk
Eksperimen lain meneliti mengapa orang memilih untuk menyibukkan diri.
Dalam dua eksperimen, peserta bisa memilih antara berdiam diri atau melakukan sesuatu yang membuat mereka sibuk. Tanpa alasan, kebanyakan memilih berdiam diri. Namun alasan yang lemah sekalipun sudah cukup untuk membuat banyak dari mereka memilih sibuk. Dan mereka yang sibuk merasa lebih bahagia sesudahnya daripada mereka yang berdiam diri, bahkan ketika mereka dipaksa untuk sibuk.
Peneliti menyebut ini idleness aversion, keengganan untuk menganggur: kita tidak suka berdiam diri, tetapi kita butuh pembenaran untuk menyibukkan diri.
Ini mungkin membantu menjelaskan mengapa sebagian orang selalu menemukan proyek baru. Bagi orang dengan tingkat aktivitas tinggi, alasan untuk tetap sibuk jarang habis.
Kesibukan sebagai simbol status
Sibuk bukan hanya soal kepribadian. Ini juga soal bagaimana orang lain memandang kita.
Dalam serangkaian studi, peneliti menemukan bahwa gaya hidup yang sibuk dan kerja berlebihan, alih-alih hidup penuh waktu santai, telah menjadi simbol status, setidaknya di Amerika Utara. Orang yang tampak sibuk dipandang kompeten, ambisius, dan banyak dicari. Efeknya bergantung pada budaya, dan peneliti menemukan perbedaan antara Amerika Utara dan Eropa.
Ini bukan studi tentang kepribadian. Namun studi ini mengingatkan bahwa ritme hidup Anda dibentuk oleh lebih dari sekadar temperamen. Skor tinggi bisa mencerminkan siapa Anda, tetapi juga harapan orang-orang di sekitar Anda.
Orang yang aktif lebih banyak bergerak
Tingkat aktivitas bukan hanya soal jadwal. Ini juga soal tubuh.
Sebuah meta-analisis dari tahun 2006 menggabungkan 33 studi tentang kepribadian dan aktivitas fisik. Ekstraversi berkaitan dengan aktivitas fisik yang lebih banyak, dengan korelasi sekitar 0,23. Kehati-hatian juga berkaitan dengan aktivitas yang lebih banyak, dan Neurotisisme dengan aktivitas yang sedikit lebih rendah.
Studi ini mengukur Ekstraversi secara keseluruhan, bukan tingkat aktivitas secara khusus. Namun hasilnya cocok dengan gambaran kaum ekstrover sebagai orang yang suka bergerak.
Tingkat aktivitas tidak sama dengan ambisi atau ADHD
Ini perbedaan penting.
Tingkat aktivitas yang tinggi tidak berarti Anda sangat ambisius atau produktif. Bekerja keras menuju tujuan jangka panjang tercakup dalam perjuangan akan prestasi, salah satu facet Kehati-hatian. Anda bisa terus-menerus sibuk dengan banyak hal berbeda tanpa mengejar satu tujuan yang jelas. Dan Anda bisa sangat ambisius sambil bekerja dengan ritme yang tenang dan stabil.
Tingkat aktivitas yang tinggi juga tidak sama dengan hiperaktivitas pada ADHD. Tingkat aktivitas adalah perbedaan kepribadian yang normal dalam hal ritme yang Anda sukai. ADHD adalah kondisi klinis yang melibatkan masalah perhatian dan pengendalian impuls yang menimbulkan kesulitan di beberapa bidang kehidupan. Tes Big Five tidak bisa mengatakan apa pun tentang apakah Anda mengidap ADHD. Jika Anda kesulitan berkonsentrasi atau sering gelisah dalam kehidupan sehari-hari, ada baiknya membicarakannya dengan dokter atau psikolog.
Terakhir, sibuk tidak selalu merupakan tanda energi. Sebagian orang menyibukkan diri agar tidak cemas atau murung. Jika itu terdengar akrab, hal itu mungkin lebih berkaitan dengan facet kegelisahan daripada dengan tingkat aktivitas.
Apa arti skor tinggi atau rendah?
Tingkat aktivitas tinggi
Anda punya banyak energi dan menyukai ritme yang cepat. Anda sering mengerjakan banyak hal sekaligus dan menikmati jadwal yang padat.
Sisi lainnya, Anda bisa mengambil terlalu banyak tanggung jawab, sulit beristirahat, atau merasa gelisah ketika hidup melambat.
Tingkat aktivitas rendah
Anda lebih suka ritme yang santai dan tidak terburu-buru. Anda senang punya waktu luang dan menikmati bersantai.
Itu tidak berarti Anda menyelesaikan lebih sedikit. Banyak orang dengan skor rendah bekerja secara teliti dan stabil, dan mereka sering lebih kecil kemungkinannya kelelahan karena terlalu banyak komitmen.
Kedua gambaran ini menyangkut kecenderungan umum, bukan aturan yang berlaku di setiap situasi.
Dalam kehidupan sehari-hari
- Di tempat kerja: Orang dengan skor tinggi sering berkembang dalam peran yang serba cepat dengan banyak tugas. Orang dengan skor rendah sering bekerja lebih baik jika punya waktu untuk berkonsentrasi dan lebih sedikit proyek yang berjalan bersamaan.
- Dalam hubungan: Satu pasangan ingin mengisi akhir pekan dengan rencana, yang lain ingin hari Minggu yang tenang. Menyepakati beberapa hari bebas sejak awal bisa mencegah banyak pertengkaran.
- Bersama anak-anak: Orang tua dengan tingkat aktivitas tinggi sering mengisi penuh jadwal keluarga. Perlu diingat bahwa anak-anak juga berbeda-beda, dan sebagian butuh lebih banyak waktu istirahat daripada yang lain.
- Kesehatan: Orang dengan skor tinggi sering merasa mudah untuk tetap aktif secara fisik. Orang dengan skor rendah bisa terbantu dengan memasukkan gerak ke dalam rutinitas, seperti berjalan kaki atau bersepeda ke tempat kerja, alih-alih mengandalkan sisa energi.
Bisakah tingkat aktivitas berubah?
Kepribadian cukup stabil, tetapi tingkat aktivitas memang berubah seiring usia.
Dalam sebuah studi jangka panjang yang besar pada orang dewasa, yang diukur dengan kuesioner yang menjadi acuan facet dalam tes kami, tingkat aktivitas stabil pada usia dewasa muda, lalu menurun dengan laju yang makin cepat di usia lanjut.
Itu wajar. Namun jika Anda ingin menemukan ritme yang lebih cocok, ada beberapa hal yang bisa dicoba:
- Jika skor Anda tinggi, rencanakan istirahat sesengaja Anda merencanakan kegiatan.
- Perhatikan apakah Anda menyibukkan diri karena menikmatinya, atau untuk menghindari sesuatu.
- Jika skor Anda rendah, terimalah ritme Anda dan pilihlah komitmen dengan cermat.
- Ingatlah bahwa sibuk tidak sama dengan penting, meskipun budaya kita kadang memperlakukannya demikian.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah tingkat aktivitas tinggi sama dengan produktif?
Tidak. Tingkat aktivitas menyangkut ritme dan seberapa banyak yang Anda kerjakan. Produktivitas sama besarnya bergantung pada fokus, perencanaan, dan disiplin diri, yang diukur di bawah Kehati-hatian.
Apakah tingkat aktivitas rendah sama dengan malas?
Tidak. Orang dengan skor rendah lebih suka ritme yang lebih pelan, tetapi mereka bisa sangat pekerja keras. Kemalasan lebih menyangkut kurangnya motivasi untuk melakukan apa yang perlu dilakukan, yang lebih dekat dengan facet disiplin diri.
Bisakah saya introver tetapi punya tingkat aktivitas tinggi?
Bisa. Anda bisa menghindari pesta tetapi tetap terus-menerus sibuk dengan latihan olahraga, proyek, dan hobi. Keenam facet Ekstraversi tidak selalu berjalan beriringan.
Bagaimana tingkat aktivitas diukur dalam tes Big Five?
Tes kami didasarkan pada IPIP-NEO-120, di mana setiap facet diukur dengan empat pernyataan. Untuk tingkat aktivitas, pernyataannya menyangkut selalu sibuk, selalu aktif bergerak, melakukan banyak hal di waktu luang, dan suka bersantai. Yang terakhir dinilai secara terbalik. Bacalah skor Anda sebagai tanda suatu pola, bukan gambaran lengkap tentang diri Anda.
Cari tahu skor Anda
Tingkat aktivitas hanyalah satu dari enam facet Ekstraversi. Anda bisa punya hidup yang sibuk tetapi tetap pendiam dalam kelompok, atau punya ritme yang pelan tetapi tetap menyukai pesta.
Ikuti tes Big Five dan lihat seluruh profil Anda, lengkap dengan 30 facet.
Sumber
- Wilson, T. D., Reinhard, D. A., Westgate, E. C., Gilbert, D. T., Ellerbeck, N., Hahn, C., Brown, C. L. & Shaked, A. (2014). Just think: The challenges of the disengaged mind. Science, 345(6192), 75–77.
- Hsee, C. K., Yang, A. X. & Wang, L. (2010). Idleness aversion and the need for justifiable busyness. Psychological Science, 21(7), 926–930.
- Bellezza, S., Paharia, N. & Keinan, A. (2017). Conspicuous consumption of time: When busyness and lack of leisure time become a status symbol. Journal of Consumer Research, 44(1), 118–138.
- Rhodes, R. E. & Smith, N. E. I. (2006). Personality correlates of physical activity: A review and meta-analysis. British Journal of Sports Medicine, 40(12), 958–965.
- Terracciano, A., McCrae, R. R., Brant, L. J. & Costa, P. T. (2005). Hierarchical linear modeling analyses of the NEO-PI-R scales in the Baltimore Longitudinal Study of Aging. Psychology and Aging, 20(3), 493–506.
- Johnson, J. A. (2014). Measuring thirty facets of the Five Factor Model with a 120-item public domain inventory: Development of the IPIP-NEO-120. Journal of Research in Personality, 51, 78–89.